Kabar Desa
Sejarah Minimalis Masjid Nurul Iman Dusun Wates Sejak 1980
Dipublikasikan pada: 25 Nov 2024
JOMBANG – Masjid Nurul Iman di Dusun Wates, Desa Jatiwates, Kecamatan Tembelang sudah ada sejak 1980. Masjid ini, hingga kini masih mempertahankan bangunan lamanya.
Dari depan, bangunan masjid tak seperti umumnya. Bangunan masjid seperti rumah biasa. Atapnya model limas rumah warga. Dinding masjid mayoritas sudah tembok. Ornamen pintu masuk serambi menandakan bangunan ini masjid. Ada plakat bertuliskan Masjid Nurul Iman.
Bagian depan serambi ada enam jendela kaca. Sementara lantainya dari keramik. Serambi dan tempat wudu dibangun sekitar lima tahun lalu. Bagian dalam masjid merupakan bangunan lama. ’’Masjid ini didirikan 1980,’’ kata Ketua Takmir Masjid Nurul Iman, Sukamto.
Bagian dalam masjid belum pernah direnovasi. ’’Bagian dalam masjid, mulai dari pintu, jendela, sampai langit-langit bangunan lama semua. Sejak mulai dibangun sampai sekarang belum pernah direnovasi,’’ jelasnya.
Sukamto cerita, masjid dibangun atas saran masyarakat sekitar. ’’Dulu kalau ke masjid harus ke Dusun Jati. Karena agak jauh, akhirnya di sini dibangun masjid baru,’’ tutur lelaki berusia 64 tahun ini.
Saat itu salah satu warga mewakafkan tanah. ’’Bu Srinah mewakafkan tanahnya dan disetujui putranya yakni Abah Latif,’’ terangnya. Rumah Srinah tepat di samping masjid. Sebanyak 30 persen anggaran pembangunan masjid dari swadaya masyarakat. ’’Sisanya dari putra Bu Srinah’’ kenangnya.
Sampai sekarang bangunan itu belum pernah diubah sama sekali. Pengurus masjid sengaja mempertahankan bangunan lama. ’’Pertama eman bangunan asli masjidnya. Kedua juga menyesuaikan anggaran,’’ bebernya. Penambahan hanya dilakukan pada dinding, dipasang keramik warna biru. Sementara lantai masjid juga merupakan keramik lawas.
Masjid Nurul Iman ini memiliki bentuk minimalis. Luasnya 15X30 meter dan bisa menampung 100 jamaah. Kubah masjid yang biasanya berbentuk besar, di masjid ini juga berukuran kecil. ’’Dulu waktu membangun tidak pakai gambar. Juga tidak niru masjid mana pun. Intinya ingin punya masjid,’’ terang Sukamto.
Ini adalah masjid kedua di Desa Jatiwates. ’’Di desa ini ada lima masjid. Pertama di Jatisari. Kedua di sini (Dusun Wates),” ujar Sukamto. Masjid murni dibangun swadaya warga dan keluarga yang wakaf tanah. ’’Sampai sekarang belum pernah ada bantuan dari pemerintah,’’ jelasnya. Masjid selalu dipakai salat lima waktu dan ada kultum usai Subuh.
Dari depan, bangunan masjid tak seperti umumnya. Bangunan masjid seperti rumah biasa. Atapnya model limas rumah warga. Dinding masjid mayoritas sudah tembok. Ornamen pintu masuk serambi menandakan bangunan ini masjid. Ada plakat bertuliskan Masjid Nurul Iman.
Bagian depan serambi ada enam jendela kaca. Sementara lantainya dari keramik. Serambi dan tempat wudu dibangun sekitar lima tahun lalu. Bagian dalam masjid merupakan bangunan lama. ’’Masjid ini didirikan 1980,’’ kata Ketua Takmir Masjid Nurul Iman, Sukamto.
Bagian dalam masjid belum pernah direnovasi. ’’Bagian dalam masjid, mulai dari pintu, jendela, sampai langit-langit bangunan lama semua. Sejak mulai dibangun sampai sekarang belum pernah direnovasi,’’ jelasnya.
Sukamto cerita, masjid dibangun atas saran masyarakat sekitar. ’’Dulu kalau ke masjid harus ke Dusun Jati. Karena agak jauh, akhirnya di sini dibangun masjid baru,’’ tutur lelaki berusia 64 tahun ini.
Saat itu salah satu warga mewakafkan tanah. ’’Bu Srinah mewakafkan tanahnya dan disetujui putranya yakni Abah Latif,’’ terangnya. Rumah Srinah tepat di samping masjid. Sebanyak 30 persen anggaran pembangunan masjid dari swadaya masyarakat. ’’Sisanya dari putra Bu Srinah’’ kenangnya.
Sampai sekarang bangunan itu belum pernah diubah sama sekali. Pengurus masjid sengaja mempertahankan bangunan lama. ’’Pertama eman bangunan asli masjidnya. Kedua juga menyesuaikan anggaran,’’ bebernya. Penambahan hanya dilakukan pada dinding, dipasang keramik warna biru. Sementara lantai masjid juga merupakan keramik lawas.
Masjid Nurul Iman ini memiliki bentuk minimalis. Luasnya 15X30 meter dan bisa menampung 100 jamaah. Kubah masjid yang biasanya berbentuk besar, di masjid ini juga berukuran kecil. ’’Dulu waktu membangun tidak pakai gambar. Juga tidak niru masjid mana pun. Intinya ingin punya masjid,’’ terang Sukamto.
Ini adalah masjid kedua di Desa Jatiwates. ’’Di desa ini ada lima masjid. Pertama di Jatisari. Kedua di sini (Dusun Wates),” ujar Sukamto. Masjid murni dibangun swadaya warga dan keluarga yang wakaf tanah. ’’Sampai sekarang belum pernah ada bantuan dari pemerintah,’’ jelasnya. Masjid selalu dipakai salat lima waktu dan ada kultum usai Subuh.